FESTIVAL KOTA LAMA KLAMPOK 2019

Kompleks bangunan tua yang berlokasi di Balai Latihan Kerja (BLK) Klampok terlihat bernyawa ketika tiap sudutnya dimanfaatkan sebagai stand berbagai macam kegiatan pada event Festival Kota Lama (Feskola) Klampok, Banjarnegara. Event yang digelar pada 14-15 September 2019 ini bertujuan untuk mengenalkan potensi pariwisata yang ada di Purwareja Klampok, di mana bangunan tua menjadi center point pada event tersebut.  
 


Hadir dalam pembukaan event Feskola 2019, Bupati Banjarnegara, Sekda Kabupaten Banjarnegara, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Banjarnegara, Jajaran OPD se Kabupaten Banjarnegara, dan tamu undangan lainnya.

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono berkesempatan memberi sambutan sekaligus membuka acara Feskola 2019. Dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi gelaran festival yang menurutnya membutuhkan kekuatan yang tinggi dan sinergitas antara pemerintah daerah, masyarakat setempat, dan para pemerhati sejarah dan juga cagar budaya.


Bupati menambahkan, bahwa potensi pariwisata dengan ikon bangunan tua ex kolonial Belanda kedepannya bisa dikembangkan menjadi Destinasi Edukasi baik dari sisi sejarah, maupun seni dan budaya setempat.Usai memberi sambutan dan membuka event Feskola 2019, Bupati Banjarnegara beserta tamu undangan menukarkan uang rupiah di De Javasche Bank supaya bisa digunakan untuk belanja kuliner maupun kerajinan tangan khas setempat.

Nah, ada apa saja di Feskola 2019? Berikut ulasannya!

Harus punya alat pembayaran yang sah di dulu Feskola.
 


Ya, pengunjung Feskola 2019 diwajibkan untuk menukar uang rupiahnya menjadi uang kertas yang didesain seperti uang zaman dulu berlatar belakang bangunan tua Kantor Pos Klampok. Terdapat dua pecahan uang yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Feskola, yaitu pecahan Rp 5.000 dan Rp. 10.000. Kurangnya edukasi baik kepada pengunjung maupun penjual, tidak sedikit pengunjung yang tetap berbelanja menggunakan alat tukar rupiah.

Pasar Ngkuna.


Salah satu yang menarik dan menjadi ciri khas dari Feskola yaitu adanya pasar ngkuna atau pasar yang menawarkan jajanan zaman dahulu dengan properti yang digunakan pun terlihat lawas. Tidak hanya itu, kuliner desa setempat juga diangkat dan dikenalkan di event ini. Kupat Landa dengan lauk ayam petis, misalnya. Dengan rupa ketupat yang unik, kuliner ini selalu diburu pengunjung.

Stand edukatif dan informatif.

Tidak hanya Pasar Ngkuna, lomba fashion show busana lawas a la orang kampung, meneer dan noni Belanda juga sangat ditunggu-tunggu oleh para pengunjung. Mereka yang ikut lomba tidak hanya berlenggak-lenggok saja, namun menjadi "ikon" untuk foto bersama pengunjung dengan latar belakang bangunan tua.

Tahun ini, @feskola_klampok2019 menambah beberapa stand yang menarik. Pertama yaitu dari @smkhkti2official SMK HKTI 2, Purwareja Klampok. Stand ini menyuguhkan kesenian melukis dan memahat wayang kulit. Dua kesenian ini menjadi ekstrakurikuler di sekolahan tersebut. Keren banget, ya! Terlebih untuk wayang kulit yang mana kita tahu bahwa sekarang makin sedikit perajin wayang kulit. Eko Waluyono, namanya. Perajin wayang kulit berasal dari Desa Kalimandi ini ternyata guru di SMK HKTI 2. Berawal dari hobi dan belajar secara otodidak, kini Pak Eko terus aktif membuat wayang kulit dan menularkan ilmunya kepada generasi muda supaya ada regenerasi dan tetap lestari. 


Kedua, stand yang menyuguhkan barang-barang antik, lawas, namun masih terawat dengan baik. Barang-barang tersebut milik Pak Fuad, warga Pekauman yang hobi mengoleksi barang-barang antik.

Ketiga, stand Keramik dan Batik. Di stand ini, pengunjung dapat belajar membuat keramik dan batik dengan didampingi oleh ahlinya. Khusus bagi anak-anak, disediakan juga melukis menggunakan media keramik dengan harga Rp 15.000 per keramik.
 
Pertunjukan seni.

Kisah seorang Demang yang meminta upeti kepada masyarakat juga menjadi atraksi menarik di Feskola 2019.

Atraksi tersebut dibalut dalam sendratari pocong pari yang dibawakan oleh masyarakat desa Kalimandi, Klampok. Sendratari tersebut mengingatkan bahwasanya dulu setiap ada panen raya di suatu daerah, masyarakat harus memberi upeti kepada yang berkuasa saat itu sebagai tanda ketundukan dan kesetiaan kepada pimpinan. Kesenian ini terasa khidmat karena dilaksanakan tepat di area kompleks bangunan tua BLK Klampok. Mengenang Klampok tempo doeloe. Para pengunjung makin betah karena ditemani musik keroncong dari Keroncong Camelia yang mana personilnya adalah warga setempat.

Feskola tahun ini merupakan gelaran kedua. Mudah-mudahan kedepannya event ini betul-betul bisa mengangkat potensi pariwisata di Purwareja Klampok dan kawasan bangunan tua terus ramai, tidak hanya saat event digelar supaya ada tambahan pergerakan ekonomi di sana.

Baca juga Festival Kota Lama 2018

Tidak ada komentar