Sejarah Desa, Gotong Royong, dan Sang Dewi Dalam Balutan Kirab Pari Jenggawur

Jenggawur Artnival 2018
Sebuah kolaborasi tani, seni, dan budaya yang diberi nama Jenggawur Artnival (JeArt) 2018 telah diselenggarakan oleh karang taruna bersama Pemerintah Desa Jenggawur pada tanggal 24, 26, 30, 31 Agustus, dan 1 September 2018. Jenggawur Artnival diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi Desa Jenggawur ke-107 yang jatuh pada tanggal 24 Juli.

Dengan mengusung tema “Memikul Tradisi Menanam Budaya”, Jenggawur Artnival 2018 memiliki 7 kegiatan utama yaitu Rembug Sejarah Desa, Kirab Pari, Pameran Potret Potensi Desa se-Banjarnegara, Pameran Produk BUMDes, Desa Berpuisi, Seni Tradisi, serta penutupan yang dimeriahkan oleh Musik Etnik dan Keroncong. Nah, kali ini kami akan membawa para pembaca untuk ikut merasakan riuhnya acara Kirab Pari.


“Pari” dalam Bahasa Indonesia disebut “padi” merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dibidang pertanian. Desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Banjarnegara. Tak heran jika panitia dari JeArt 2018 memasukkan acara Kirab Pari ke dalam rangkaian kegiatan. Rangkaian acara Kirab Pari dimulai dari balai desa menuju lapangan Jenggawur. Upacara pembukaan kirab dilaksanakan di balai desa yang diikuti oleh peserta dan disaksikan oleh warga desa setempat.
Penyerahan Tombak Sebagai Simbol Pusaka Desa Jenggawur
Setelah acara pembukaan, prosesi Kirab Pari dilanjutkan dengan penyerahan tombak sebagai simbol pusaka Desa Jenggawur oleh Bapak Iswojo kepada Bapak Sutikno. Selanjutnya, disampaikan mengenai sejarah terbentuknya Desa Jenggawur oleh sesepuh desa. Sebelum tahun 1911, wilayah Desa Jenggawur ditempati oleh empat kepala desa yaitu Desa Jenggawur, Desa Pesanggrahan Kulon, Desa Pesanggrahan Wetan, dan Desa Binangun.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pemerintahan Hindia Belanda, maka diupayakan agar empat desa ini bergabung menjadi satu desa. Disepakati oleh peserta sidang pada tanggal 24 Juli 1911 tepatnya hari Senin Manis, sebagai hari lahirnya Desa Jenggawur yang merupakan gabungan dari empat desa tadi. Tiga bulan kemudian, diadakan pemilihan kepala desa pertama yaitu Alm. Ahmad Ngirsyad.

Berikut merupakan tokoh-tokoh yang pernah menjadi Kepala Desa Jenggawur:
  • Ahmad Ngirsad (1911-1945)
  • Sumardi Harjo Prayitno (1946-1974)
  • Iswojo (1975-1988)
  • Tohari (1989-1998)
  • Pranyoto (1999-2006)
  • Sutikno (2007-sekarang)

Dewi Pari Desa Jenggawur
Bapak Sutikno selaku kepala desa memimpin rombongan kirab dengan menaiki kuda dan diikuti oleh para gadis cantik yang membawa foto 6 tokoh yang pernah menjadi Kepala Desa Jenggawur. Satu gunungan padi yang dipikul oleh empat orang berada di belakang foto mantan kades bersama dengan 15 tumpeng yang dibuat oleh masing-masing RT. Satu tumpeng dan 15 RT tersebut melambangkan satu desa dan di dalamnya ada 15 RT.

Oh iya, ada seorang wanita cantik berada di depan gunungan padi tersebut yang dijuluki Dewi Pari. Ia merupakan simbol keberuntungan dan penjaga padi petani dimasa lampau. Perangkat desa juga turut meramaikan Kirab Pari ini dengan mengenakan pakaian adat. Disusul pada barisan belakang adalah masyarakat Jenggawur yang mengenakan baju dan aksesoris bertema kebudayaan, pertanian, dan keagamaan. Ketiga tema tersebut dipilih karena menggambarkan Jenggawur pada masa lampau.

Rombongan Kirab Pari Menuju Lapangan Desa Jenggawur
Arak-arakan Kirab Pari mulai meninggalkan balai desa untuk menuju ke lapangan. Warga nampak antusias untuk menyaksikan acara yang baru pertama kali diselenggarakan ini. Bahkan lapangan Desa Jenggawur sudah dipadati oleh masyarakat yang menunggu rombongan kirab datang.

Prosesi kirab dilanjutkan dengan mengelilingi lapangan sebanyak satu kali. Hal ini dimanfaatkan oleh kepala desa bersama perangkatnya untuk menyapa warga. Setelah itu, gunungan padi ditempatkan di tengah lapangan bersama tumpeng dari masing-masing RT. Peserta kirab dan masyarakat duduk mengelilingi gunungan padi tersebut dan dilanjutkan doa bersama untuk keselamatan dan kemakmuran warga Desa Jenggawur serta mendoakan para leluhur. Makan tumpeng bersama dan grebeg gunungan padi menjadi penutup rangkaian acara Kirab Pari.
Masyarakat Duduk Mengelilingi Gunungan Padi di Tengah Lapangan
Pak Darmono, salah satu warga yang mengikuti grebeg gunungan padi mengatakan bahwa padi tersebut bisa menjadi bibit yang bagus untuk ditanam. “Ini kalau buat bibit tambah bagus dan isinya pun biasanya lebih bagus lagi. Bisa tahan dari penyakit. Ceritanya seperti itu”, ungkapnya.

Mas Aan Luki Saputra selaku Ketua Panitia Jenggawur Artnival 2018 melalui pesan WhatsApp mengaku turut bangga dengan masyarakat Desa Jenggawur yang masih nguri-uri budaya para leluhur. Semangat gotong royong telah mensukseskan acara Kirab Pari. “Harapan saya masyarakat Desa Jenggawur dan para generasi penerusnya (pemuda/i) selalu mengingat jasa para leluhur, seni, tradisi, dan budaya, salah satunya harus diadakan setiap tahun kegiatan Jenggawur Artnival”, ungkapnya.


Beliau juga berharap masyarakat setempat merasa memiliki kembali Desa Jenggawur sebagai entitas kemasyarakatan di Banjarnegara yang kaya akan potensi alam, budaya, dan pertahian. “Potensi desa kami, terkhusus pertanian bisa lebih dikenal masyarakat, dan beras Jenggawur bisa menjadi pilihan salah satu beras berkualitas di Banjarnegara, sehingga bisa mendatangkan perputaran ekonomi pedesaan di desa kami”, pungkasnya. (Sovi)

Tidak ada komentar