Kemeriahan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara Ke-187

Kirab Panji Lambang Daerah
Tanggal 22 Agustus 2018, Kabupaten Banjarnegara genap berusia 187 tahun. Perayaan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara dilaksanakan pada Sabtu (25/8) karena tanggal 22 bertepatan dengan Hari Raya Iduladha 1439 H. Meski diundur, ribuan warga Kabupaten Banjarnegara menyambut dengan meriah acara tersebut.

Rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-187 diawali dengan Kirab Panji Lambang Daerah yang merupakan acara pemindahan ibukota pemerintahan dari Banjar Watu Lembu (Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu) menuju ke Pendopo Dipayuda Adigraha di pusat Kota Banjarnegara. Tumenggung Dipayuda pada tanggal 22 Agustus 1831 melaksanakan napak tilas pemindahan pusat pemerintahan ini yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Banjarnegara.


Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Banjarnegara
Prosesi Kirab Panji Lambang Daerah dimulai dengan rapat paripurna DPRD Kabupaten Banjarnegara di Pendopo Desa Banjarkulon. Setelah itu, lambang panji daerah diserahkan kepada Bapak Bupati Budhi Sarwono untuk dikirab. Iring-iringan kirab dipimpin oleh Bupati Banjarnegara beserta Ibu Marwi Budhi Sarwono, diikuti oleh Wakil Bupati beserta Ibu Kristiani Syamsudin, Sekda Banjarnegara, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOMPINDA), dan pimpinan DPRD Banjarnegara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta kirab mengenakan busana adat Jawa Banyumasan dan menaiki andong atau dokar yang telah dihias. Jumlah dokar yang mengikuti kirab sebanyak 52 unit yang sehari sebelumnya telah disiapkan dalam lomba dokar.

Bupati Banjarnegara beserta Ibu Marwi Budhi Sarwono Menyapa Warga
Rute kirab dimulai dari Balai Desa Banjarkulon kemudian melewati pertigaan Banjarmangu, Petambakan, Pertigaan Gayam, Pertigaan Krandegan, dan berhenti di depan Gedung DPRD Banjarnegara. Dari Gedung DPRD kirab dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pendopo Dipayuda Adigraha. Iring-iringan kirab menempuh jarak kurang lebih sejauh 8 kilometer dengan waktu tempuh 1,5 jam. Bupati beserta jajarannya memanfaatkan momen ini untuk menyapa warga Kabupaten Banjarnegara yang menyaksikan kirab di sepanjang jalan yang dilewati.

Saat memasuki Alun-alun Banjarnegara, rombongan kirab disambut oleh 1.000 penari geol yang merupakan siswi Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Banjarnegara. Tari geol merupakan seni tari asli dari Kabupaten Banjarnegara. Tarian ini diciptakan dengan banyak gerakan pinggul yang dalam masyarakat Banjarnegara dikenal dengan istilah “geol”. Oleh karena itu, tarian tersebut dinamakan tari geol.

Para siswi SD se-Banjarnegara dengan penuh semangat menari dihadapan Bupati beserta jajarannya pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-187. Kelompok siswi dari SD Negeri 1 Kubang, Kecamatan Wanayasa yang berjumlah lima orang mengaku senang bisa menyambut rombongan Bupati dengan tarian geol.


1.000 Penari Memeriahkan HUT Banjarnegara 187
Teriknya matahari siang itu tak menyurutkan masyarakat Banjarnegara untuk datang ke alun-alun. Selain Kirab Panji Lambang Daerah, ada satu lagi prosesi yang ditunggu-tunggu yaitu Grebeg Tujuh Gunungan. Masing-masing gunungan tersebut dipikul oleh empat orang. Gunungan dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter itu berisi berbagai hasil bumi yang merupakan simbol potensi Banjarnegara seperti buah-buahan, sayur, umbi-umbian, salak, jajan pasar apem, dan padi. Ada satu gunungan yang menarik perhatian warga yaitu gunungan buku. Pemerintah mendorong budaya literasi masyarakat Banjarnegara dengan adanya gunungan buku.


Gunungan Buah Diarak Menuju Alun-alun
Setelah ada aba-aba dari Bupati, warga dengan serentak langsung berebut gunungan yang ada. Tak sampai hitungan menit, tujuh gunungan ludes diserbu oleh ribuan warga. Salah satu warga bernama Mas Dicky dari Pagedongan sengaja datang ke alun-alun pada pukul 10.00 WIB untuk mengikuti acara Grebeg Tujuh Gunungan.
Beliau percaya bahwa gunungan tersebut akan membawa keberkahan. “Katanya kalau dapat ini (gunungan) berkah si, mbak. Makanya bersemangat”, ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Sarno dari Purwanegara setelah berebut gunungan dan mendapatkan jajanan pasar apem. “Ini kan sudah didoakan sama sesepuh, lurah, dan perangkat, sehingga kalau makan ini akan berkah,” ucap Bapak Sarno. (Sovi)

Tidak ada komentar