Boyong Oyod Genggong: Tradisi Pemindahan Pusat Pemerintahan Desa Kalilunjar

Festival Budaya Kalilunjar 2018
Kalilunjar merupakan salah satu nama desa di Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Dalam rangka memperingati hari jadi Desa Kalilunjar yang ke-185, pemerintah desa bersama masyarakat setempat menggelar acara tahunan yang diberi nama Culture Festival of Kalilunjar. 

Festival Budaya Kalilunjar diselenggarakan pada tanggal 25-28 Agustus 2018. Acara tersebut merupakan kali keempat diselenggarakan dengan acara utama yaitu Boyong Oyod Genggong yang dilaksanakan pada Minggu (26/8). Apa itu Boyong Oyod Genggong? Penasaran kan?
Boyong” yang memiliki arti “pindah tempat tinggal”, “oyod” dalam bahasa jawa berarti “akar”, dan genggong merupakan nama dukuh dimulainya acara tersebut. Dinamakan Dukuh Genggong karena dulunya di tempat ini terdapat kayu genggong.

Boyong Oyod Genggong merupakan acara pemindahan pusat pemerintahan desa dari Dukuh Genggong ke Dukuh Purwosari. Hal ini dikarenakan Genggong dirasa kurang memadai lagi dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk. Acara dimulai sekitar pukul 08.30 WIB yang dihadiri oleh kepala desa beserta perangkatnya, ketua RT, dan warga Dukuh Genggong.

Sebelum dimulai, warga Genggong berkumpul terlebih dahulu bersama Perangkat Desa Kalilunjar untuk doa dan makan bersama yang telah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. Doa dipimpin oleh Bapak Mukhlis dengan harapan acaranya berjalan lancar dan warga Desa Kalilunjar dijauhkan dari mara bahaya.

Doa Bersama Sebelum Boyong Oyod Genggong Dimulai
Ada yang unik dari acara ini lho. Sebelum prosesi Boyong Oyod Genggong dimulai, semua warga yang akan mengikuti acara tersebut sembunyi terlebih dahulu. Setelah kentong doro muluk dibunyikan, warga kemudian berkumpul di tempat yang telah disediakan. Bunyi kentong tersebut merupakan tanda keamanan yang mengajak warga untuk berkumpul karena akan ada perintah dari Mbah Candra. Siapa Mbah Candra? Mbah Candra/Ki Candra/Mbah Cengkrong merupakan kepala desa pertama di Kalilunjar yang bertempat tinggal di Dukuh Genggong.

Pemeran Ki Candra/Mbah Candra/Mbah Cengkrong
Pada hari itu, Mbah Candra akan menyerahkan kepemimpinannya kepada Ki Pantjadiwirdja yang merupakan kepala desa kedua di Kalilunjar. Pemeran Ki Pantjadiwirdja adalah Bapak Sarkum Slamet Raharjo selaku Kepala Desa Kalilunjar sekarang. Simbol penyerahan jabatan tersebut yaitu dengan diberikannya oyod genggong untuk diarak sampai ke tempat yang baru (Pendopo Purwosari).

Mbah Candra berharap kehidupan warganya di tempat yang baru dapat sejahtera sehingga diberikan bekal banyu panguripan (air kehidupan) yang diambil dari sumber mata air genggong pada malam sebelumnya. Disamping itu, agar perjalanan aman, Ki Pantjadiwirdja juga diberi pusaka/keris. Ki Candra berpesan agar dalam perjalanan tidak boleh berbuat sembarangan. Untuk itu, Mbah Candra memberikan pesan tertulis yang diserahkan bersama oyod genggong, banyu panguripan, dan keris.

Oyod Genggong, Banyu Panguripan, Keris, dan Pesan Tertulis dari Mbah Candra
Eh, ada yang kelupaan. Ki Pantjadiwirdja mempunyai pengawal pribadi yang akan mengawal beliau dan rombongan dari Dukuh Genggong sampai ke Pendopo Purwosari. Namanya Ki Sang Sang. Dandanannya yang unik menggunakan baju berbahan karung goni yang telah dimodifikasi. Karung goni dipilih karena 185 tahun yang lalu pakaian belum se-modern sekarang, jadi adanya seperti apa, itu yang dipakai.

Ki Sang Sang
Setelah penyerahan kepemimpinan dari Mbah Candra, rombongan arak-arakan yang dipimpin oleh Ki Pantjadiwirdja meninggalkan Dukuh Genggong. Rombongan ini diikuti oleh bapak dan ibu warga sekitar yang mengenakan baju adat jawa. Ketika memasuki perbatasan Kalilunjar dan Sijeruk, Ki Pantja beserta rombongan dihadang oleh enam wewe.

Tempat tersebut merupakan rumah bagi para wewe sehingga mereka tidak mau jika wilayahnya diganggu. Keenam wewe kemudian berkelahi dengan Ki Sang Sang satu persatu. Pengawal Ki Pantja mampu mengalahkan keenam wewe dan sebagai gantinya para wewe bersedia mengawal Ki Pantja sampai ke Pendopo Purwosari. Cerita ini juga menjadi alasan wilayah tersebut dinamakan Kaliwewe.

Perkelahian antara Ki Sang Sang dengan Wewe
Arak-arakan Boyong Oyod Genggong mulai dari Kaliwewe menuju Pendopo Purwosari menggunakan kuda yang berjumlah 32 ekor. Kuda tersebut dinaiki oleh perangkat desa dan para ketua RT. Sepanjang jalan warga sekitar sangat antusias untuk menyaksikan Boyong Oyod Genggong sekaligus mengabadikan momen bersejarah tersebut.

Rombongan dipimpin oleh Ki Sang Sang yang diikuti oleh enam wewe serta anak-anak yang membawa foto kepala desa Kalilunjar mulai dari Ki Candra, Ki Pantjadiwirdja, Arsareja, Muh. Daldiri, Sahlan IP, Sudarno, Suwondo G, Slamet BP, dan Amin Setiono. Setelah foto para tokoh yang pernah memimpin Kalilunjar, dibelakangnya diikuti dua gunungan hasil bumi desa tersebut seperti padi, singkong, jagung, pisang, belimbing, salak, jambu, jeruk, timun, bengkoang, ikan mujahir, cabai, jengkol, buncis, cabai, dan sawi. Pengawal Ki Pantjadiwirdja yang berjumlah 6 orang berada di belakang gunungan hasil bumi kemudian diikuti oleh Ki Pantja dan para ketua RT.

Gunungan Hasil Bumi Desa Kalilunjar
Arak-arakan Boyong Oyod Genggong akhirnya sampai di Pendopo Purwosari. Ribuan warga menyambut dengan antusias prosesi pemindahan pusat pemerintahan desa ini sambil menunggu acara grebeg gunungan hasil bumi. Sesampainya di depan pendopo, para wewe tidak diperbolehkan masuk karena acara tersebut hanya diperuntukkan bagi manusia.

Acara selanjutnya diisi dengan cerita sejarah Desa Kalilunjar oleh pembawa acara sekaligus pengenalan nama-nama tokoh yang pernah menjadi pemimpin desa tersebut. Rombongan memasuki pendopo dengan disambut oleh Tari Boyong Oyod Genggong yang menggambarkan sejarah kelahiran Desa Kalilunjar. Cerita legenda yang dipentaskan dalam bentuk tarian ini berhasil memecah suasana dengan suara riuh tepuk tangan dari pengunjung.

Tari Boyong Oyod Genggong
Prosesi Boyong Oyod Genggong diakhiri dengan rebut gunungan dan makan tumpeng bersama. Uniknya, rebut gunungan tidak hanya diikuti oleh orang dewasa, tapi anak-anak juga turut berpartisipasi lengkap dengan dandanan dan baju adat jawanya. Masyarakat antusias untuk mengikuti rebut gunungan karena mereka percaya makanan tersebut akan membawa keberkahan.

Persiapan Untuk Rebutan Gunungan
Dengan dilaksanakannya acara rebut gunungan, maka prosesi Boyong Oyod Genggong sudah berakhir. Gairah masyarakat untuk menyaksikan dan mengikuti Festival Budaya Kalilunjar menjadi tanda suksesnya kegiatan ini. Semoga tradisi ini terus dijalankan di tahun-tahun yang akan datang dan semakin banyak wisatawan yang hadir untuk menyaksikannya. (Sovi)

Tidak ada komentar