Inilah Gelaran Festival Kota Lama 2018, Klampok

Rasa penasaran akan konsep yang telah disampaikan pada rapat pleno persiapan Festival Kota Lama (Feskola) 2018 akhirnya terjawab sudah pada 29-30 April 2018. Sebuah konsep yang mengajak para pengunjung seoalah-olah kembali merasakan kejayaan kaum feodal di kompleks BLK Kecamatan Purwajera Klampok, Kabupaten Banjarnegara.



Suasana tempo dulu mulai terasa saat melewati gapura buatan yang terkesan kokoh seperti bangunan zaman dulu. Beberapa sepeda kuno yang berjejer di depan gapura pun menambah kesan klasik. Kemudian melangkah beberapa jengkal, pengunjung akan menjumpai panggung sederhana yang terbuat dari bambu, dan janur dengan aksesori sepeda onthel. Di sini lah pusat acara festival, termasuk penampilan beberapa pertunjukan dari warga setempat.

Festival yang dibuka oleh Setda Kabupaten Banjarnegara dengan dihadiri oleh para muspida daerah, menyajikan banyak atraksi menarik dengan konsep klasik termasuk dari sisi penampilan. Seluruh peserta yang tampil di sini mengenakan kostum tempo dulu khas noni dan meneer, termasuk MC, dan para pengisi acara seperti Keroncong Serayu Camelia yang kompak mengenakan kostum warna putih. Pun dengan penampilan musikal dari Gendhuk Manis, Tari Pocong, sampai teater kolosal yang ditampilkan oleh siswa SMK HKTI Purwareja Klampok. Sayangnya nih, tidak semua panitia mengenakan baju kebesaran yang menjadi trend pada masa kolonial.

Pertunjukan dari Gendhuk Manis...

Keroncong Serayu Camelia....
Gendhuk Manis menampilkan tarian dan dansa anak-anak dengan mengenakan kostum noni meneer. Tari ini diperankan oleh anak-anak, 9 perempuan dan 1 meneer. Penampilan ini pada dasarnya kreatif apalagi para penari mengenakan kostum khas noni lengkap dengan topi, serta payung sebagai aksesori. Namun dansa yang dimainkan oleh anak-anak rasanya kurang greget karena mereka kurang percaya diri dan juga kurang ekslpor karena lokasi terlalu sempit. Sementara Tari Pocong ini tidak hanya menampilkam tarian yang mencerminkan tanam paksa zaman dulu, namun di dalamnya juga menampilkan beragam mainan tradisional yang terbuat dari bambu dan gagang daun singkong yang dibuat wayang-wayangan. Belum lagi pertunjukan drama yang totalitas banget. 



Saat pengunjung menuju loket De Javasche Bank, tempat penukaran uang, memori seakan kembali pada zaman dulu. Konon, bank sirkulasi pemerintahan Hindia Belanda yang dicetuskan pertama kali Mr. C.T. Elout dan diwujudkan oleh Raja Willem I pernah ada di Klampok. Di sini pengunjung dapat menukarkan uang yang berlaku sebagai alat tukar menukar saat ini dengan uang zaman dulu di De Javasche Bank. 

Untuk apa penukaran mata uang ini?


Para pejabat menukarkan uang tempo duluuu....
Selain pertunjukan pentas seni, festival ini menawarkan jajanan tempo dulu. Adapun syarat untuk membeli jajanan ini yaitu menggunakan alat bayar dengan desain tempo dulu. Bentuknya seperti uang kertas biasa, hanya saja desainnya khas zaman dulu. Kompleks kuliner ini dibuat dengan susunan memanjang dan satu arah, tepatnya di area BLK paling timur.






Festival Kota Lama Klampok makin ramai dengan didukung pertunjukan seperti parade busana lawas, pesta dansa klasik, konvoi sepeda tua, hingga tumplek-templek. Tak lupa, panitia menyelipkan beberapa potensi lokal daerah setempat, seperti keramik klampok, batik tulis, pandai besi, kerajinan anyaman, dan pameran foto cagar budaya yang ada di Banjarnegara. Lomba fotografi dan vlog pun diadakan sebagai penunjang event Feskola 2018.

Sungkem buat tim @klampoktempodoeloe yang saban hari mengulik Klampok dan berusaha untuk menyajikan yang terbaik di Festival ini. Sukses untuk Festival Kota Lama Klampok 2018. Semoga pemerintah daerah makin serius menggarap potensi-potensi pariwisata yang ada di daerah barat sebagai penunjang potensi pariwisata yang sudah ada. 🙋‍♂️

Tidak ada komentar