Maju Bersama Desa Wisata?

Selasa (20/03), kami menghadiri undangan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara. Acara bertajuk Dialog pariwisata dengan tema maju bersama desa wisata menghadirkan Mas Feri Iwan Cahyono dari Anggota Wakil Ketua DPR Prov. Jateng, Gunawan Permadi Pimpinan Redaksi Suara Merdeka, Mas Alif Fauzi mewakili Desa Wisata  yang makin berkembang di Banjarnegara yaitu Desa Wisata Dieng Kulon, dan tentunya Pak Dwi dari Kadinpar Kab. Banjarnegara.



Sebagai pembuka acara sekaligus memberi wawasan kepada para undangan, Pak Dwi memaparkan tentang keadaan pariwisata di Banjarnegara terkini. Tentang perkembangan, kendala, dan capaian selama satu tahun untuk tiap obyek wisata yang dikelola oleh Dinpar. Kompleks Candi Arjuna, misalnya. Beliau juga menyampaikan keinginannya yang ditujukan kepada seluruh pegiat wisata di Banjarnegara untuk sama-sama mengangkat dan mempromosikan destinasi wisata di Banjarnegara melalui digital seperti seperti sosial media dan blog supaya makin dikenal.

Dalam kesempatan yang sama, Mas Feri menyampaikan bahwa, di DPR tingkat Provinsi tak lama lagi akan ada pembahasan atau perumusan UU tentang Desa Wisata. Sebagai wakil rakyat Banjarnegara di sana, Mas Feri ingin tahu keadaan Desa Wisata di Banjarnegara dan juga ingin mendengar harapan-harapan dari teman-teman yang aktif di Desa Wisata. Namun apa yang terjadi?

Dialog tidak mengerucut pada desa wisata. Para undangan yang hadir dan mangajukan pertanyaan, hampir semua keluar dari tema dialog. Peserta lebih fokus bertanya untuk kemajuan pariwisata secara umum, bukan untuk desa wisata.

Pun saat Mas Alif memaparkan tentang perkembangan Desa Wisata Dieng Kulon yang kini makin banyak atraksi yang ditawarkan untuk para pengunjung desa wisata. Dari pemaparan yang luar biasa, hampir tidak ada dialog yang menyentuh tentang desa wisata. Para peserta nampak fokus pada obyek wisata yang dipaparkan oleh mas alif, bukan kemasan desa wisatanya. Sayang banget.

Pemateri berikutnya yaitu Pak Gunawan, beliau menyampaikan tentang keseriusan pokdarwis dalam menciptakan dan mengemas produk desa wisata. Masing-masing desa wisata memang harus punya karakter, harus unik, dan tidak boleh ada kesamaan produk antar desa wisata. Beliau juga menyampaikan tentang pentingnya promosi pariwisata melalui media cetak.

"Meski era sudah digital, media cetak tetap perlu untuk promosi karena final suatu berita ada di wartawan." Pungkasnya dalam acara tersebut.

Acara yang dihadiri oleh para pegiat wisata, pemerhati wisata, desa wisata, blogger, dan generasi millenial, nampaknya tidak sesuai harapan. Tidak ada dialog serius terkait desa wisata. Artinya, tidak ada rumusan yang nantinya akan diangkat di tingkat provinsi oleh Mas Feri. Diskusi yang berlangsung selama lima jam di ruang Madukara Room SYP, tidak mendapat goal karena masing-masing tamu undangan fokus dengan tujuan sendiri dan sayangnya tidak berkaitan dengan Desa Wisata.

Jadi, tema dialog "maju bersama desa wisata" nampaknya perlu diadakan lagi, dan mungkin yang diundang cukup para pelaku desa wisata supaya lebih fokus dan tepat sasaran. Sementara para pegiat wisata, pegiat sosial media, blogger, dll, bisa diundang secara terpisah terkait dengan promosi pariwisata khususnya desa wisata di Banjarnegara. Ini sekadar saran untuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah yang dalam hal ini sebagai inisiator acara karena maju bersama Desa Wisata itu sangat mungkin.


Teks dan foto oleh Idah Ceris

1 komentar

  1. Luar biasa ibu negaraku satu ini. Semoga ketika diadakan diskusi semacam ini lagi bisa lebih fokus membahas deswita..

    BalasHapus